Cinta yang Tak Sempurna
Oleh: Carollina G.N (X.3/ 06)
“Kita putus!”teriak Erli.Dengan mimik wajah yang bertanya-tanya Aku berusaha untuk menenangkan Erli, tetapi Erli pergi begitu saja meninggalkanku tanpa memberi kesempatan kepadaku untuk membela diri. Aku berusaha menahan Erli dengan menarik tangannya. Tetapi Erli malah memberi tanda cap lima jari di pipiku. “Jangan pegang-pegang!”bentak Erli. Sampai-sampi banyak murid-murid lain yang melihatku dengan mimik yang beragam. Erli pun pergi sambil berlari kecil menjauhiku. Aku hanya berdiam melihat Erli pergi. Karena aku tahu, bila aku menahan Erli untuk pergi lagi, maka tidak hanya pipi kiriku yang akan kemerahan, tapi pipi kananku juga. Setelah Erli menghilang dari pandangan mataku, aku pergi dengan hati bertanya-tanya,”Mengapa Erli melakukan itu kepadaku?Tidakkah ia tahu, betapa malunya aku ketika dia menamparku tadi di depan teman-temanku.Aku ini seorang laki-laki, tapi … ahh, sudahlah,” sambil menyudahi pertanyaan bisuku itu, aku bergegas pergi ke kelas Tyas.Sejanak aku berpikir, betapa beruntungnya aku memiliki seorang sahabat seperti Tyas. Tyas terkenal sebagai makcomblang yang handal. Itu sudah dapat dibuktikan. Rata-rata comblangan Tyas terbilang jitu. Banyak pasangan yang dicomblangkannya langgeng. Tidak hanya menyomblang, tapi ia juga sering memberi nasihat-nasihat seputar masalah berpacaran, sehingga orang-orang memanggilnya Madam cinta. Entah didapatnya darimana ilmu-ilmi tersebut, tapi semua itu berhasil.Banyak orang yang sudah membuktikannya.Tapi sampai saat ini, Tyas belum pernah sekali pun berpacaran. Walaupun sudah cukup banyak laki-laki yang menaruh hati padanya, ia tolak semuanya tanpa terkecuali. Banyak orang yang menanyakan itu, tetapi jawabannya selalu itu-itu saja.Karena ia masih menunggu seseorang.Entah siapa yang dimaksudnya, ia selalu merahasiakannya tentang itu.
Sesampai dikelas Tyas, aku harus menunggu dua orang “pasien”nya lagi untuk dapat berbicara dengan Tyas, ckckck betapa sibuknya dia. Sudah dapat diperkirakan, nanti setelah lulus SMA ini, akan menjadi apakah ia, tetapi ia membantahnya dengan tegas.Ia mengatakan bahwa ia ingin menjadi seorang Dokter. Ia mengatakan bahwa ia ingin membantu orang-orang susah untuk mendapatkan pengobatan gratis dengan layak. Ia sedih melihat kondisi kesehatan di negara kita ini. Banyak orang susah yang tidak bisa mendapatkan pengobatan secara layak.
Teet…teeeeet..tett.
Bel tanda masuk sudah berbunyi, dengan perasaan sedikit kecewa segera kutinggalkan kelas Tyas dan kembali ke kelasku.”ahh… sudahlah kan nanti masih bisa bertemu dengannya sewaktu pulang sekolah.
Guru mata pelajaranku pun masuk, seperti biasa, dia berbicara tanpa seorang pun yang memperhatikannya. Sebenarnya aku kasihan melihatnya dicueki oleh murid-muridnya, tapi . . mau bagaimana lagi, memang dia sungguh membosankan. Tak salah bila murid-muridnya mengabaikannya, bahkan tidak dianggap lagi kehadirannya.
Setelah lama ditunggu-tunggu, akhirnya bel pulang sekolah berbunyi juga. Setelah berdoa dan menghormat pada Bendera aku pun langsung berlari menuju ke kelas Tyas, takutnya nanti dia keburu menghilang lagi. Sangat sulit untuk mencari keberadaan Tyas, lagian sangat sulit untuk menghubungi Tyas. Dia memiliki banyak nomor, seperti orang sibuk. Pernah kuprotes kepadanya tentang hal ini, tetapi dengan santainya dia menjawab, “Sebagai orang yang sibuk dan banyak keperluan, sudah seharusnya aku memiliki banyak nomor.Hahahaha….”Sungguh jawaban yang menjengkelkan pikirku.
Setelah tiba dikelasnya, ternyata perkiraanku benar. Dia sudah menghilang dari kelasnya. Rasa kecewa datang menghampiriku untuk kedua kalinya untuk hari ini. Aku langsung pergi ke gerbang sekolah, mungkin ia masih berdiri di sana untuk menunggu jemputannya. Ternyata benar, ia sedang menunggu disana. Sendirian. “Nah, ini adalah kesempatan bagus untukku. Dengan begini aku bisa mengobrol leluasa dengannya!” Segera aku berlari untuk menghampirinya, tapi, ,entah nasib jelek apa yang menimpaku. Belum aku sampai ke tempatnya berdiri, ia sudah naik ke mobil jemputannnya itu. “aduhh, susah sekali untuk bertemu dengannya!” pikirku kesal. Sangat kesal.
Dengan perasaan kecewa untuk yang ketiga kalinya, aku pun berjalan pulang. Saat diperjalanan pulang, tak sengaja aku melihat Erli. Tetapi dengan perasaan antara yakin dan tak yakin, aku berusaha untuk melihatnya lebih dekat. “Iya, itu Erli!” Jeritku dalam hati. Betapa terkejutnya aku, aku melihat dia bergandengan mesra dengan seorang lelaki. Lelaki itu Sam.Sam adalah anak Basket.Selain pemain basket, Sam juga merupakan seorang model.Sudah banyak kejuaraan Modelling yang di menangkannya.Pesonanya membuatnya dapat membuat wanita tergila-gila padanya.. Karena kelebihannya itu ia dikenal sebagai Playboy cap jempolan. Tetapi herannya, cap Playboynya itu tidak membuat para wanita itu menjauhinya.Malahan makin banyak wanita yang mengejarnya. Tetapi tidak untuk Tyas. Hanya Tyas satu-satunya wanita yang menolak pernyataan cinta Sam .Sam sering bergonta-ganti pacar.Banyak wanita yang hatinya dikecewakan oleh Sam, tetapi mati satu tumbuh seribu. Sam hanya mempermainkan wanita-wanita itu. Dan sekarang Erli adalah mangsa selanjutnya. “Pasti ia memutuskan ku karena laki-laki itu!”ujarku dalam hati. “Mungkin ia lebih menyukai laki-laki yang sporty seperti Sam daripada aku.”Aku tidak terlalu sporty seperti Sam, aku jarang berolahraga. Olahraga yang kulakoni hanya berenang atau Bowling.Aku lebih banyak menghabiskan waktu luangku untuk bermain Game Online. Tetapi, aku jauh lebih menghargai perasaan wanita daripada Sam. Aku tidak pernah memutusi seorang wanita, selalu saja wanita itu yang memutusi aku. Karna aku tidak akan menjilat ludahku. Bila aku telah menyatakan suka pada seorang wanita, apakah aku harus memutusinya yang berarti mencabut kata-kataku ,bahwa aku tidak suka lagi padanya. Mana komitmen ku sebagai lelaki? Aku harus menyadarkan Erli, kalau Sam bukanlah pria yang cocok untuknya.
Sesampai di rumahku, aku merasa ada yang aneh. Pintu rumahku biasanya tertutup dan sekarang terbuka lebar.Biasanya aku harus mengetuknya dengan sekuat tenaga agar orang di dalam rumahku membukakan pintu untukku, karena di rumahku tidak tersedia sebuah bel. Sering aku mengeluhkan hal ini, tetapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda keluhanku didengarkan. Kedua orang tuaku merupakan orang-orang sibuk yang pergi pagi dan pulang malam. Sebagai anak tunggal, aku hanya ditemani pembantu selama orang tuaku pergi. Makanya aku lebih sering bermain Game Online pada saat sedang kesepian.
Dengan sedikit mengendap-endap seperti pencuri aku masuk ke dalam. Tiba-tiba, terdengar bunyi barang terjatuh di ruang tengah. Aku pun tersentak kaget. Terlintas dipikiranku, ada pencuri masuk ke rumahku. Sambil mengambil stick golf ayahku, aku berjalan pelan-pelan ke arah ruang tengah.Sewaktu aku sampai di tembok pembatas, “Surpriseee!” Teriak Tyas. Badanku langsung terjatuh ke belakang.Aku terkejut bukan main. Disana kulihat ada beberapa teman-teman dekatku dan . . kedua orang tuaku .Suatu kejadian yang jarang terjadi, orangtuaku merayakan ulang tahun bersamaku.Biasanya seribu satu alaan dilontarkan saat ku ajak untuk merayakan ulang tahunku.
“Selamat ulang tahun, nak. Sekarang kau sudah semakin dewasa. Rasa-rasanya, baru kemarin ayah memangkumu, hahaha.” Kata ayahku.
“Iya nak, ibu sayang padamu.”sambung ibuku sambil mengelus-elus rambutku. Tyas hanya tersenyum melihat aku.
“Tapi sekarang ayah harus pergi karena ada meeting di kantor.”kata ayah yang membuatku kecewa
.”Iya, ibu juga harus buru-buru kembali ke kantor.” Kata ibu, tanpa memperhatikan perasaanku.
Baru tadi aku merasakan suatu kebersamaan yang lengkap yang jarang kurasakan.Dan sekarang, semuanya harus berakhir.
”Tidak!” teriakku.”Bisakah ayah dan ibu tetap disini.Hari ini adalah hari spesialku, please..”kataku sambil memohon.
”Tapi kami sangat sibuk.Masih banyak pekerjaan yang menunggu kami. Bukankah disini masih ada teman-temanmu?” Jawab ibu sambil merayu.
”Tapi, mereka bukan keluargaku, mereka hanya sahabatku!Tidakkah ibu mengerti? Tolonglah, setidaknya sampai acara ulang tahunku selesai.” pelas ku.
”Sudahlah!Kau itu anak laki-laki.Jangan manja!Kami juga bekerja untuk mencari uang, untuk engkau juga hasilnya.”kata ayah sambil menjelaskan.Mereka pergi begitu saja tanpa manghiraukan aku.
“Ya sudahlah, kan masih ada kami di sini.Ayo kita bersenang-senang saja hari ini!Jangan bersedih lagi!” hibur Tyas.
“Oke, oke,mau bagaimana lagi.Ayo berpesta!” seruku.
Setelah berjam-jam, akhirnya pesta itu berakhir juga.Satu per satu temanku berpamit pulang. Tinggallah Tyas sendiri.
”Mengapa kau belum pulang?”tanyaku. Tyas hanya terdiam.
“Kau tidak menyukai pestanya?”tanyaku sekali lagi.
“Tidak, tidak bukan begitu.Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan.”jawab Tyas.
“Apa? Katakanlah, aku akan mendengarnya.”bujukku.
“Ahh, nantilah, aku belum siap mengatakannya.Aku pulang dulu ya. Daaa..”Ujar Tyas seraya pergi.
“Kalau kau sudah siap bercerita, datang saja, temui aku.Aku siap!Oke?”kataku.
“Oke!”jawab Tyas sambil megancungkan jempolnya.
Entah mengapa aku merasa sesuatu yang ingin dibicarakannya itu sangatlah penting. Tidak hanya baginya tetapi juga bagiku.Sesampai di kamar aku melihat ada sebuah bingkisan besar. Begitu aku buka, ternyata ini kado dari orang tuaku. Mereka membelikan aku sebuah gadget canggih yang sedang trend saat ini.”Yess!!”seruku.Sambil menyelesaikan membuka bungkus kado, aku menemukan sebuah surat. Surat dari orang tuaku, kurang lebih isinya bahwa mereka mencintaiku.Entah mengapa perasaanku menjadi senang.Sangat senang.Rasanya surat itu mewakili seluruh cinta dari orang tuaku.Aku pun tertidur di sebelah bingkisan itu.
Pagi-paginya aku bangun seperti biasa, siap-siap ke sekolah.Pada saat sarapan bersama orang tuaku, aku bersikap seakan-akan semalam tidak terjadi apa-apa.”Bagaimana kadonya?Kamu suka?”tanya ayahku.”Suka, yah.Suka sekali.”jawabku bersemangat berharap orang tuaku membahas tentang surat itu.Tetapi, setelah kutunggu-tunggu, ternyata mereka sama sekali tidak menyinggung tentang surat itu.”Ya, sudahlah.”pikirku.Mungkin mereka lupa karena mereka terlalu sibuk..
Aku bergegas pergi ke sekolah.Sesampainya di sekolah,semuanya berjalan seperti biasa.Hanya saja, ada satu yang menjanggal. Tidak ada Erli lagi. “Oh iya, hampir aku lupa.Aku harus berbicara dengan Erli!”ujarku dalam hati.Segera aku berlari ke kelas Erli. Sungguh kejadian d luar perkiraanku, aku melihat Tyas mengobrol akrab dengan Erli.Aku pun baru tahu kalau Tyas mengenal Erli. Langsung saja aku mendatangi mereka.Sewaktu aku sampai, seketika Erli langsung pergi tanpa menghiraukan kehadiranku. Sewaktu aku berusaha mengejar, Tyas menarik tanganku.”Sudah, biarkan ia menenangkan dulu pikirannya.”kata Tyas menenangkan.”Tapi aku harus memberitahukannya sesusatu yang penting!”jelasku.”Menjelaskan apa?” tanya Tyas.”Menjelaskan bahwa Sam bukanlah lelaki yang pantas untuknya!”jawab ku agak berteriak.Wajah Tyas pun berubah, “Sudah kukatakan tak usah!”Jawab Tyas sambil berbalik berteriak dan berlari menjauhiku.Aku pun segera berlari menyusulnya, ku pegang tangannya,
“Aku minta maaf karena telah membentakmu.”sambil memohon.
”Bukan salahmu, mungkin aku yang keterlaluan.Harusnya aku yang minta maaf. Sudahlah lupakan saja kejadian tadi.Sekarang aku lagi ingin sendiri, bisakah kau tinggalkan aku sebentar?”pinta Tyas.Aku pun mengiyakan perkataannya dan segera pergi.Tapi, aku terus mengawasinya meski dari kejauhan.Kulihat dia menangis.”Astaga!Apa aku sekejam itu, sampai membuat sahabatku menangis?” kataku dalam hati.Bel masuk pun berbunyi.Sungguh, kejadian tadi membuatku tidak konsen di kelas.Sepulang sekolah aku mencoba mencari Tyas ke kelasnya, ke kantin, ke gerbang sekolah, tapi hasilnya nihil.Aku sangat ingin minta maaf kepadanya. Saat sedang merenungkan perbuatanku, aku melihat Erli.”Dia sedang sendirian.Itu keadaan yang bagus untuk bicara empat mata dengannya.”pikirku dalam hati.Segera aku berlari menghampirinya.
“Hai Erli!”sapaku
Tak ada jawaban sepatah kata pun dari mulut Erli.
“Haloo?Ada orang?” sambil melambaikan tangan di depan wajahnya.
“Apaan sih!mengganggu saja!”Bentak Erli
“Habis,kau tidak menjawab teguranku!”jawabku santai.
“Mau apa kau sekarang?”Tanya Erli ketus.
“Hanya ingin mengatakan sesuatu tentang kau dan Sam.”Jawabku dengan nada agak serius.
“Sam?Aku dan Sam?”tanya Erli heran.
“Ya, kau dan Sam.Aku sudah mengetahui hubunganmu dengannya.Kemarin sepulang sekolah aku melihat kau berdua dengannya.”Jelasku
“Memang apa urusanmu lagi kalau aku dan Sam berpacaran?Kau cemburu?”tanya Erli
“Tidak, tidak, aku tidak cemburu”Jelasku.
“Terus kenapa?Apa urusanmu?”jawab Erli ketus.
“Aku hanya ingin menjelaskan kepadamu bahwa Sam itu Playboy, lebih baik jauhi dia.”Jelasku.
“Ooo,,Playboy?Terus kau di sebut apa? Pemain perasaan wanita? Apa bedanya! Sama saja!”Jawab Erli.
“Aku?Apa maksudmu?Aku tidak pernah sekalipun menduakan mu!Sekarang kau menuduhku Playboy.”bantahku.
“Hahaha,,kau pikir aku bodoh!Sahabatmu sendiri menceritakan semuanya kepadaku!Apa kau mau menuduh sahabatmu berbohong?” tanya Erli.
“Sahabatku? Tyas maksudmu?”Tanyaku kembali.
“Aduuhh,,plis deh, gak usah sok polos deh!Gerah aku melihatnya!”Ujar Erli sambil pergi meninggalkanku.
Dalam benakku, aku masih bertanya-tanya,”Tyas?Tyas yang mengatakannya?Apa benar?Atau Erli hanya asal berbicara saja.”Sambil melupakan pertanyaan-pertanyaanku aku berlari menuju ke rumah Tyas.”Aku harus mendapatkan penjelasan tentang semua ini.” Kataku dalam hati.Sesampai di rumah Tyas, aku mengetuk pintunya dan dibukakan oleh mamanya Tyas.
”Misi tante, Tyas nya ada?”tanyaku sopan.
“Ngg, ,Tyas nya belum pulang, do.”Kata mama Tyas.
“Belum pulang?”tanyaku heran.
“Iya ,belum pulang, do. Emang ada apa?Nanti tante samapikan”jawab mama Tyas.
“Oo,,nggak ada apa-apa kok tante.Misi tante.”Pamitku .
“Iya, iya, sampaikan salam tante untuk ibumu yah.Hati-hati di jalan.”Kata mama Tyas.
Aku harus mencari tyas kemana lagi.Pikiranku pun mulai kabur.Tiba-tiba,”Aha, aku tau dimana Tyas”Kataku bersemangat.Biasanya Tyas selalu pergi ke taman tidak jauh dari rumahnya bila ia sedang bersedih.Sesampainya di taman, ternyata benar.Tyas sedang duduk di kursi taman.Sambil menangis.
“Hai Tyas.”Sapaku
Tersentak Tyas terkaget.
“Maaf, maaf, aku tak bermaksud mengaggetkanmu, tapi tadi kau sedang melamun.”jelasku.
“Ya, tidak apa-apa.Ada apa kau ke sini?”Jawab Tyas sembil menghapus air matanya.
“Mencarimu.Dari tadi aku mencarimu, sampai akhirnya aku menemukanmu disini.”kataku.
“Mencariku, untuk apa?”Tanya Tyas.
“Aku ingin minta maaf bila aku sampai membuatmu menangis.Tapi aku benar-benar tidak bermaksud.Aku hanya . .”aku terhenti karena Tyas menutup mulutku.
“Aku menangis bukan karena kau, tapi karena kebodohanku sendiri.”Jawab Tyas sambil tertunduk.
“Kebodohanmu?Maksudmu?aku tidak mengerti..”tanyaku penasaran.
“Sudahlah, lupakan.Kau mencariku hanya untuk itu?”potong Tyas.
“Mmm, sebenarnya ada satu lagi masalah yang ingin kutanyakan kepadamu,,”Kataku.
“Apa, katakanlah?”Kata Tyas.
“Nantilah ku tanyakan tentang hal itu, kulihat kau masih bersedih.Aku tak mau membuatmu menangis lagi.”Jawabku.
“Tidak apa-apa.Katakanlah.Aku tidak sedih lagi kalau kau ada di sampingku.”Bujuk Tyas.
“Oke, ,tapi pliss kau jangan tersinggung.Gini, apa benar kau mengatakan aku yang tidak-tidak di depan Erli?”Tanyaku pelan.
Tyas hanya terdiam.
“Ngg, kalau kau tidak mau menjawab juga tidak apa-apa.Aku tau, Erli hanya asal bicara.”jawabku tenang.
“Do,,”kata Tyas
“Ya?Ada apa?”Tanyaku.
“Sebelumnya aku minta maaf.Aku ini memang bodoh!hiks..hiks..hikss.Maafkan aku kalau menyusahkanmu.Tapi..tapi…”Kata Tyas sambil menangis.
“Tapi apa?”Tanyaku penasaran.
“Tapi,,,semua yang dikatakan Erli memang benar.Aku memfitnahmu.hikss..hiksss.hiksss.Aku tau bodohnya aku melakukan itu.Tapi semua itu karena satu alasan.Hikss…hiksss…”Jelas Tyas.
“Mengapa kau memfitnah aku?Apa alasannya?Apa?Aku kecewa denganmu..”jawabku
“Maafkan aku.Aku sunggguh minta maaf.Aku..aku… suka padamu.Sungguh, aku cemburu melihat kedekatanmu dengan Erli, plisss…kau boleh marah padaku, tapi jangan jauhi aku…”Rengek Tyas.
Aku hanya terdiam mendengar semua itu.Antara rasa percaya dan tidak percaya.
“Apa kau bilang?”Tanyaku seakan tidak percaya.
“Ya,,aku suka padamu..sudah sejak lama aku suka padamu.Aku memang pandai menasihati orang lain, tapi aku sendiri pun tak bis mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya…Bodohnya aku..”Sesal Tyas.
“Kalau kau menyukaiku, mengapa kau jodohkan aku dengan Erli!”Bentakku.
“Karena…karena ku pikir kau lebih menyukai Erli dari pada aku.Karena kupikir selama ini kau hanya menganggapku sahabatmu, tidak lebih.Pliss jangan jauhi aku!”Pinta Tyas.
Aku langsung berpaling meninggalkan Tyas sendiri.
“Eddooo,,,Eddoo,,jangan pergi!”Teriak Tyas.
Tanpa menoleh ke belakang aku langsung berlari meninggalkannya.Sesampai di rumah, aku langsung berguling di tempat tidur sambil melihat barang-barang kenanganku bersama Erli.Setelah itu, kulihat sebuah hadiah pertemanan dari Tyas yang masih kusimpan.Sungguuh sedih aku melihat semuanya.Kubanting semua barang-barang itu ke tembok hingga hancur berantakkan.Tiba-tiba terdengar bunyi telepon, segera aku mangangkatnya,”Halo.”
“Eddo,,Eddoo,,tolong tante, ,tolong tante.”Suara Mama Tyas resah.
“Ada apa tante?”Tanyaku.
“Tyas,,Tyass,, mengurung diri dikamar.Tadi dia sempat mengambil tali di dapur, doo,,tolong tante!”teriak tante.
“Iya tenang tante, tenang tante,,,aku segera ke sana!”Jawabku.
Segera aku menutup telepon dan bergegas menaikki sepeda motorku. Dengan pikiran kalut takut terjadi apa-apa dengan Tyas aku menancap gas sekuat-kuatnya.sesampai di ujung lorong pertigaan, tiba-tiba BRAAKK,sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi meghantam motorku, aku terjatuh dan menabrak trotoar jalan. Sempat aku melihat sekeliling dan . . .
Begitu sunyi kurasakan..terdengar sayup-sayup ada suara orang yang memanggilku. “Eddo..” suara itu terdengar halus tetapi seakan-akan ada di dekatku.Dekat sekali.Aku berusaha mencari suara itu.Makin lama, makin kersa suara itu.Tersentak aku terbangun.Ternyata ibuku memanggilku.Disitu juga ada ayahku.Mereka tersenyum kepadaku.
“Ada apa ini?Mengapa aku disini?”Tanyaku heran.
“Kau kecelakaan nak.Kau tidak sadar selama tiga hari.Untung kau tidak apa-apa.”Jawab ibuku.
“Kecelakaan?”tanyaku dalam hati.”Oh iya, aku baru ingat, aku ditabrak oleh sebuah mobil ketika aku … Pikiranku tersentak aku teringat Tyas.
”Oh ya, Tyas , ,Tyas bagaimana ,bu?Tanyaku.
“Dia juga sedang dirawat di Rumah Sakit ini.Dia mencoba menggantungkan dirinya dikamar.sungguh kasihan anak itu.”Jawab ibuku.
“Sekarang dia bagaimana?”Tanyaku penasaran.
“Dia masih koma..”jawab ibuku.
Dengan perasaan sedih, aku segera beranjak dari tempat tidurku, tapi..tapi..ada yang salah.Rasanya kaki ku ada yang janggal.Ketika kutarik selimut, betapa terkejutnya aku kedua kakiku sudah tidak ada.
“Apa-apaan ini?Siapa yang mengambil kakiku!Kembalikan!Kembalikan!”Teriakku histeris.
Kedua orang tua ku mencoba menenangkan aku, tetapi aku terlalu histeris melihat keadaan kakiku.
“Dokter…dokter!”Teriak ibuku.
Dokter pun datang dan segera menyuntikku, lama kelamaan aku pun menjadi tenang dan mengantuk.Setelah aku terbangun, sungguh sedih aku mengetahui keadaanku.Aku hanya berdiam pasrah.
“Bu, bisakah ibu mengantarku ke tempat Tyas, pliss?”Pintaku.
“Oke, tapi sebentar saja, nak.Kau harus banyak istirahat.”Kata ibuku.
“Iya bu.”Janjiku.
Sedihnya aku, untuk berjalan saja aku harus dibawa oleh alat beroda ini.Ketika sampai di ruangan Tyas, tiba-tiba saja perasaanku sedih, air mataku pun terjatuh di pipiku.Aku hanya bisa melihat Tyas terbaring dari luar ruangan.”Ya Tuhan, mengapa semuanya jadi seperti ini?Apa salahku?”Berontakku dalam hati.
______________________________¬¬TAMAT__________________________________
Rabu, 22 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar